Research

Research News

Latest news from

The Conversation

View all

Articles by Loughborough academics featured on The Conversation

How women and the moon intertwine in literature

Shutterstock/rangizzz

In the late 17th century, the female English playwright Aphra Behn wrote a smash hit play about a man obsessed with the moon, who was constantly travelling there in his imagination. Exactly 282 years later, Neil Armstrong and Buzz Aldrin actually made that dream a reality.

Their astonishing achievement on July 20, 1969 led some to worry that the moon would become an object of purely scientific study – a barren and lifeless body, no longer a source of romantic inspiration. Fortunately, this fear did not come to pass.

For example, in the year that marked the 40th anniversary of the landings ten years ago, the then poet laureate Carol Ann Duffy edited To the Moon: An Anthology of Lunar Poems which gathered together works from ancient to modern, and included her own poem, The Woman in the Moon.

And while no woman has yet stepped on to this celestial body, women have long been associated with the moon – with its tidal pull, and the binary thinking that places it secondary in majesty to the sun. It is no wonder, then, that the moon has stimulated some incredible literature by female writers.

The moon is often envisaged as a female entity, which inspired poems on the theme of her gaze as she looks down on Earth benignly. Way back in antiquity, the Greek poet Sappho did just this in her short song describing how:

When, round and full, her silver face, Swims into sight, and lights all space.

This trope continued for millennia and into the 19th century. Louisa May Alcott (author of Little Women) wrote The Mother Moon in 1856, imagining a benevolent maternal moon looking down on the Earth, occasionally hidden but ultimately undiminished by clouds. Also in the 19th century, American poet Emily Dickinson’s moon similarly shone “Her perfect Face Upon the World below”.

Duffy’s more recent poem contains these familiar elements, being written in the persona of a woman in the moon – one who is incredulous anyone could have believed instead in a man in the moon. The woman in the moon has spent millennia observing Earth and now implores those gazing up at her to reflect on the neglect humans have wrought on planet Earth, repeating the question “What have you done?”

Shining a light

Of course, not all female literary responses to the moon have been quite so lyrical. Aphra Behn’s hilarious farce The Emperor of the Moon, which took the London stage by storm, is one example. Behn was one of the first English women to earn a sustained living through writing, breaking social barriers and becoming a valued literary role model for later generations of women authors.

Based on a French source, but changed in many ways to make it Behn’s own, the play centres on a doctor, Baliardo, who is tricked into believing he is in the company of men from the moon.

Aphra Behn (1640-1689), the first known professional English female writer. Shutterstock

He longs to know whether the moon has seas, why it shines so brightly, and whether there is proof to the theory that its atmosphere was so like the Earth’s that it, too, was inhabited.

The obsession makes him so gullible that when his daughter’s mischievous lover pretends to be the “Emperor Iredonzor”, and spouts clever sounding jargon in order to complete the disguise that he is an inhabitant of the moon descended to Earth, the doctor is convinced.

The fake emperor of the moon is then able to convince his future father-in-law that he is conferring a great honour on the family through a conjugal union with his daughter (who is in on the scheme). As the play finishes, the doctor realises that he has conceded to marry his daughter not to a superior creature from another planet, but to the fairly ordinary boy next door.

The farcical plot was spectacular and breathtaking in production and special effects. The original stage directions describe how:

The Globe of the Moon appears, first, like a new Moon; as it moves forward it increases, till it comes to the Full. When it is descended, it opens, and shows the Emperor and the Prince. They come forth with all their Train, the Flutes playing a Symphony before him, which prepares the Song.

We can only imagine the audience’s reaction, but the play was an enormous success, staged 130 times by 1749. If Behn had thoughts of space travel, too, she did not commit them to paper.

The 28 phases of the moon in a lunar month. Engraving by P. Miotte, 1646. Wellcome Collection, CC BY

But perhaps as NASA ramps up preparations for further lunar exploration, the moon will move out of the purely imaginary. Maybe women will at last be among the exclusive number of humans to have stepped on to the moon and gazed back to Earth for themselves.

The Conversation

The authors do not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organisation that would benefit from this article, and have disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.

Sekolah alam: bagaimana belajar di alam bebas membantu perkembangan anak

Shutterstock

Meski banyak penelitian menyebutkan agar anak-anak dapat menghabiskan waktu bermain di luar ketimbang berada di dalam ruangan, para orang tua masih khawatir membiarkan mereka melakukan aktivitas yang dianggap terlalu berisiko seperti memanjat pohon atau menjelajah alam.

Padahal, salah satu penelitian menunjukkan bahwa permainan di luar ruangan bermanfaat untuk mengembangkan ketahanan emosional pada anak.

Sekolah-sekolah baru mulai memahami pentingnya waktu bermain di luar ruangan bagi anak-anak pada satu setengah dekade terakhir. Mereka pun mulai merancang program-program yang memasukkan sesi pembelajaran di luar kelas.

Salah satu program yang semakin meningkat popularitasnya dalam beberapa tahun terakhir adalah sekolah alam.

Apa itu sekolah alam?

Sekolah alam adalah inisiatif pembelajaran di luar ruangan sebagai alat untuk pembelajaran dan pengembangan.

Gerakan sekolah alam di Inggris dimulai sejak awal tahun 1990-an ketika para pendidik di Bridgewater College di Somerset, Inggris melakukan perjalanan ke Denmark.

Mereka mempelajari bagaimana orang-orang Skandinavia yang sangat menghargai ruang terbuka hijau memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam sistem pendidikan mereka. Setelah kembali dari Denmark, para pendidik tersebut mulai mengembangkan konsep sekolah alam pertama dan menerapkannya kepada tempat penitipan anak. Lalu, mereka mulai memasukkan kualifikasi penilaian B-Tech (setara dengan fisika, matematika dan bahasa inggris) ke dalam sistem sekolah alam.

Para pendidik Bridgewater tersebut berkontribusi dalam mengembangkan pelatihan yang terstruktur bagi para praktisi sekolah alam. Kini, Asosiasi Sekolah Alam, badan profesional untuk praktisi sekolah alam di Inggris, telah memiliki lebih dari 1.500 anggota.

Melalui sekolah alam, anak-anak diberi kesempatan untuk menjelajah alam terbuka. Mereka akan belajar cara menghadapi risiko dan tantangan di alam terbuka dengan gaya mereka sendiri. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa sekolah alam memberikan stimulasi permainan imajinatif saat bermain di alam terbuka.

Untuk penelitian kami, kami mewawancarai lebih dari 30 anak-anak berusia antara empat dan sembilan tahun untuk mencari tahu pengaruh sekolah alam dalam proses pembelajaran mereka. Hasilnya, anak-anak yang bersekolah di sekolah alam merasa lebih mandiri. Mereka memiliki rasa tanggung jawab pribadi, sosial dan lingkungan yang lebih besar.

Mereka juga mengatakan bahwa mereka dapat menerapkan ketrampilan yang didapat saat sekolah alam dan mengembangkannya sebagai kemampuan non-akademis.

Sekolah alam mendorong anak-anak untuk berpikir kreatif–untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil risiko–, dan bekerja sama dengan teman-teman mereka. Mereka juga merasa lebih aktif secara fisik selama berada di sekolah alam karena belajar bergerak dengan aman di area yang sulit ditebak dan menantang.

Bergerak itu penting

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa anak kecil perlu diberikan kesempatan bermain untuk tumbuh sehat. Sayangnya, manfaat dari sekolah alam masih sering salah kaprah.

Orang awam masih menganggap sekolah alam sebagai bagian terpisah dari pendidikan formal. Di Inggris, memang ada beberapa sekolah alam yang memang beroperasi penuh waktu, seperti Wildawood Forest School di Cambridgeshire. Namun, sebagian besar terintegrasikan ke dalam sekolah-sekolah biasa, murid-murid meninggalkan ruang kelas untuk belajar di sekolah alam selama setengah atau sehari penuh sekali atau dua kali seminggu.

Kami berbicara dengan anak-anak, kepala sekolah, dan pimpinan sekolah alam di dua sekolah dasar dan menemukan bahwa pendidikan formal dan informal dapat melengkapi satu sama lain.

Mereka mengakui bahwa sistem sekolah dapat meredam rasa ingin tahu anak-anak tentang dunia. Lebih lanjut, anak-anak menyadari bahwa belajar di kelas lebih banyak diarahkan oleh guru dan berfokus kepada lulus ujian.

Sementara, para kepala sekolah mengakui tekanan yang diberikan kepada anak sejak usia dini dan adanya kebutuhan untuk mengukur perkembangan murid berdasarkan target yang ditetapkan.

Sekolah alam memberikan kesempatan, baik bagi guru dan murid, untuk keluar dari proses belajar yang monoton di ruangan kelas. Sebagai gantinya, mereka terlibat aktif dalam pembelajaran yang mandiri.

Hal ini akan mengembangkan keterampilan non-akademis dari para murid, seperti negosiasi, ketahanan mental, dan kemandirian. Dengan memadukan kedua metode pembelajaran, anak-anak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan berbagai keterampilan dan mempersiapkan mereka untuk masa depan, sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada alam bebas sejak usia dini.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahas Inggris.

The Conversation

Janine Coates adalah anggota Forest School Association dan merupakan seorang praktisi pelatihan Forest School.

Helena Pimlott-Wilson does not work for, consult, own shares in or receive funding from any company or organisation that would benefit from this article, and has disclosed no relevant affiliations beyond their academic appointment.

Akibat manajemen sampah buruk, negara Barat ekspor sampah berkualitas rendah ke Asia

Photka/Shutterstock

Selama bertahun-tahun, sampah daur ulang yang dikumpulkan dari rumah tangga di Inggris dan negara-negara Barat lainnya diekspor. Strategi ini memungkinkan negara-negara ini terus tidak memikirkan mengenai cara konsumen membeli barang dan membuang semua kemasan dan wadah yang tidak lagi dipakai.

Selama ada pengumpulan rutin untuk kertas, logam dan plastik daur ulang, ke mana sampah ini pergi dan apa yang terjadi padanya tidak begitu dipertimbangkan. Akan tetapi, kebiasaan ini harus diubah sekarang.

Beberapa tahun yang lalu, Cina tersadarkan akan dampak lingkungan akibat keputusannya menerima buangan sampah daur ulang dari negara lain untuk dipilah, diproses, dan digunakan dalam pembuatan barang baru. Peraturan Cina yang lebih keras mulai berlaku pada 2018. Peraturan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas daur ulang yang diimpor.

Ini seharusnya menjadi peringatan bagi negara-negara Barat untuk mengubah cara sampah daur ulang dikumpulkan dan diproses demi meningkatkan kualitasnya. Akan tetapi, tampaknya tidak ada yang berubah, selain memindahkan tujuan negaranya. Alih-alih mengekspor ke Cina, sampah daur ulang lantas diekspor ke beberapa negara Eropa Timur dan berbagai negara Asia lainnya, termasuk Malaysia dan Filipina.

Sampah daur ulang tersebar ke seluruh dunia tapi tidak semua berjalan dengan baik. Lightspring/Shutterstock

Perselisihan berlangsung beberapa tahun belakangan karena Kanada mengekspor sampah berkualitas rendah ke Filipina sehingga berujung Filipina mengembalikan limbah tersebut. Negara lain juga akan mengikuti langkah Filipina tersebut ini. Hal ini tidak menjadi solusi karena sampah tersebut tetap pergi ke suatu tempat.

Bagaimana cara mengumpulkannya

Kita perlu mengubah cara kita mengumpulkan sampah daur ulang untuk memastikan bahwa barang yang dikumpulkan bisa digunakan lagi di pabrik. Ini berarti mengubah fokus dengan metode pengumpulan bahan bersih, berkualitas tinggi yang dapat didaur ulang, yang dipisahkan berdasarkan jenisnya.

Kerugian akibat proses daur ulang yang tidak tepat menunjukkan bahwa penting bagi kita untuk mengingat titik akhir dari barang-barang yang kita buang. Kerugian tersebut terjadi ketika barang yang tidak dapat didaur ulang atau yang tak tepat pilah dimasukkan dalam kotak penyimpanan, kantong, atau tempat sampah. Hasilnya sampah tersebut kemudian ditolak di fasilitas pemilahan dan juga oleh pasar luar negeri sekarang ini.

Sering ada kebingungan mengenai apa yang dapat didaur ulang di rumah dan otoritas lokal memiliki pemahaman yang berbeda-beda karena penggunaan berbagai fasilitas penyortiran. Sejumlah besar bahan dapat didaur ulang, tetapi infrastrukturnya tidak ada di semua bagian Inggris, dan metode penyortiran bervariasi tergantung fasilitas yang ada dan ini menentukan bahan mana yang dapat ditangani.

Sistem pengumpulan perlu dibuat dengan menyesuaikan sistem pengolahan sampah yang ada ketimbang membebankannya pada rumah tangga, pengumpul, atau fasilitas pemilahan. Hal ini nantinya akan memandu pihak rumah tangga tentang bagaimana mereka harus mengumpulkan sampah untuk daur ulang.

Penyortiran yang efisien memastikan pengumpulan bahan berkualitas lebih tinggi dan memberi manfaat di seluruh rantai daur ulang.

Cetak Biru Koleksi Pemerintah Welsh di Inggris, yang bekerja berdasarkan prinsip tersebut. Mereka mengamankan bahan daur ulang berkualitas tinggi dengan partisipasi rumah tangga tingkat tinggi. Dengan proses pemilihan bahan yang semakin selektif, sampah yang dihasilkan dapat memasuki pasar untuk bahan sekunder baik di negara-negara tetangga, atau di Cina, di mana sampah ini akan melewati persyaratan impor yang lebih ketat.

Komunikasi yang lebih baik harus menjadi prioritas. Di bawah ini terdapat tiga cara agar konsumen dapat mendaur ulang dengan lebih baik.

  1. Pelabelan kemasan daur ulang yang jelas dan konsisten. Label “periksa secara lokal” yang menyarankan konsumen untuk memeriksa apakah pusat daur ulang di daerah mereka menerima sampah yang mereka hasilkan tidak membantu dan hanya menyebabkan kebingungan dan membuat orang salah buang. Ini merupakan langkah awal yang baik, bersama dengan komunikasi yang lebih baik dengan pusat daur luang terhadap keberadaan barang-barang yang tidak bisa didaur ulang.

  2. Informasi lebih lanjut untuk rumah tangga tentang ke mana saja sampah daur ulang pergi dan apa yang digunakan untuk meningkatkan pemahaman seputar permintaan akan bahan berkualitas tinggi. Kondisi daur ulang berdampak pada penggunaan akhirnya. Jika daur ulang basah atau berminyak ini sering menyebabkan kerugian kontaminasi akibat barang-barang yang saling menempel selama proses penyortiran manual. Hasilnya sampah kualitasnya menjadi sangat buruk sehingga mereka tidak cocok untuk digunakan.

  3. Informasi yang lebih baik tentang tujuan akhir sampah daur ulang yang dihasilkan oleh kota tempat mereka tinggal. Menerbitkan informasi ini saat ini hanya bersifat sukarela. Ini harus dibuat wajib dan harus meliputi semua limbah yang dikumpulkan, tidak hanya yang ditangani oleh otoritas lokal. Ini akan memastikan ekspor yang konsisten, etis, dan legal. Ini akan mengekspos praktik ekspor yang buruk seperti sampah berkualitas rendah dan penyortiran yang buruk, yang membantu menyembunyikan ekspor ilegal barang-barang elektronik bekas akibat kurangnya transparansi.

Kotak pizza berminyak. Onajourney/Shutterstock

Sistem lainnya

Sistem daur ulang untuk wadah minuman sedang diteliti oleh pemerintah Inggris, tetapi akan segera diimplementasikan di Skotlandia.

Sistem ini, yang dilaksanakan di Norwegia dan Jerman, dilakukan dengan menambahkan harga ke wadah minuman yang bisa ditebus ketika konsumen mengembalikan wadah minuman kosong dan duitnya bisa digunakan untuk pembelian selanjutnya.

Mengembalikan botol dan kaleng di Jerman. Defotoberg/Shutterstock

Sistem ini membuat pengumpulan sampah dengan kualitas lebih tinggi, yang juga disertai beberapa manfaat potensial lainnya, seperti mengurangi buangan. Tentu ada argumen yang menentang, seperti biaya untuk implementasi dan dampaknya pada skema otoritas lokal dalam hal pengumpulan sampah rumah tangga karena nilai bahan yang dikumpulkan mengurangi biaya pengumpulannya.

Akan tetapi hilangnya penghasilan bagi Dewan Kota mungkin dapat diimbangi dengan pengurangan biaya pengumpulan karena volume daur ulang turun.

Meningkatkan kualitas sampah yang dikumpulkan harus dilakukan. Sistem pengembalian sampah dipandang sebagai langkah penting untuk melakukan hal ini. Pada akhirnya, kita membutuhkan perubahan mendasar dalam cara kita melihat sampah yang kita hasilkan, sehingga kita tidak mengumpulkan sampah dan melakukan “daur ulang palsu” secara masif di negara lain.

Las Asimi Lumban Gaol menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

The Conversation

Christine Cole receives funding as part of the European Union's Horizon 2020 research and innovation programme under grant agreement No 776714 (Activating Circular Services in the Electric and Electronic Sector - C-SERVEES).

  • Play

    An introduction to the Centre for Research in Communication and Culture

    Hear from Director, John Downey about the broad spectrum of communication and culture research expertise at the CRCC.

  • Play

    SBE Impact Innovators: Professor Tom Jackson & Dr Martin Sykora

    In this video, Tom and Martin discuss the way in which emotions are expressed via social media and how with super-fast processers, they can analyse these emotions to assess the mood of a nation.

  • Play

    Research Rising Star – Dr Marco Bohr

    His work primarily explores the histories, theories and practices of photography, but his interests extend to cinema and its relationship with photography, and the globalisation of photography via the Internet.

  • Latest news from

    The latest posts from Loughborough University’s Research Blog

    Events

    View all